Senin, 19 Juli 2010
senja diantara kita
Desember 2007
sungguh tak ada yang beda hari itu..
Hanya riak obak yang sedkit tertawa..
Menyaksikan tingkah kita berdua..
Berlarian layaknya balita..
Hingga kita tak peduli akan waktu..
Terbuai pesona indah pantai pelabuhan ratu..
Banggku kecil beratap daun rindang..
Sengaja aku pilih sebagai tempat peraduan..
Kupersilahkan kau berbaring di pangkuan..
Meski ragakupun penat ingin juga bersandar..
Tak selang berapa lama..
Terlantun indah cerita2 pendek tentang cinta..
Beberapa rangkai kata membelai sukma..
Sungguh tak jemu aku mendengarnya...
Tak terasa bibir pantai telah lenyap..
Seketika suasanapun senyap..
Jauh di ujung sana..
Terdengar berisik celoteh para nelayan tua..
Dengan jala di pundaknya..
Tp aku tak peduli..
Mungkin mereka hanya sedang berdoa..
Bersiap taklukan hamparan samudra..
Desember 2007
memang telah lama berlalu..
Tapi kisahnya takan menghabiskan kata..
Untuku tetap bercerita..
"tentang senja diantara kita"
sungguh tak ada yang beda hari itu..
Hanya riak obak yang sedkit tertawa..
Menyaksikan tingkah kita berdua..
Berlarian layaknya balita..
Hingga kita tak peduli akan waktu..
Terbuai pesona indah pantai pelabuhan ratu..
Banggku kecil beratap daun rindang..
Sengaja aku pilih sebagai tempat peraduan..
Kupersilahkan kau berbaring di pangkuan..
Meski ragakupun penat ingin juga bersandar..
Tak selang berapa lama..
Terlantun indah cerita2 pendek tentang cinta..
Beberapa rangkai kata membelai sukma..
Sungguh tak jemu aku mendengarnya...
Tak terasa bibir pantai telah lenyap..
Seketika suasanapun senyap..
Jauh di ujung sana..
Terdengar berisik celoteh para nelayan tua..
Dengan jala di pundaknya..
Tp aku tak peduli..
Mungkin mereka hanya sedang berdoa..
Bersiap taklukan hamparan samudra..
Desember 2007
memang telah lama berlalu..
Tapi kisahnya takan menghabiskan kata..
Untuku tetap bercerita..
"tentang senja diantara kita"
penantian
Takan ada titik batas untuk penantian..
Takan ada kata jenuh menunggu kembalimu,..
Biarlah aku disini..
Di sudut kota kecil ini..
Bersahabat dengan rindu..
Menikmati tiap jengkal putaran waktu..
Hingga nanti ku tersadar..
Pergimu tak untuk pulang...
Kala senja mulai menyapa..
Lihatlah jemari jemari kecilku ini..
yang tak lelah menghitung hari..
Lihat pula percikan tetes lara..
Yang terbendung di pelipis mata..
Maaf sayang..
Mungkin dayaku terlalu lemah..
Atau memang takdir yang tak kenal iba..
Hingga kadang asa merasuk goyahkan jiwa...
krna ujung penantiang yang tak kunjung tiba..
Jika pergimu tak untuk pulang..
Bawalah puisi ini sebagai bekal perjalanan..
Agar kau selalu ingat..
Ada aku yang terlanjur berucap..
"Takan ada titik batas untuk penantian"
Takan ada kata jenuh menunggu kembalimu,..
Biarlah aku disini..
Di sudut kota kecil ini..
Bersahabat dengan rindu..
Menikmati tiap jengkal putaran waktu..
Hingga nanti ku tersadar..
Pergimu tak untuk pulang...
Kala senja mulai menyapa..
Lihatlah jemari jemari kecilku ini..
yang tak lelah menghitung hari..
Lihat pula percikan tetes lara..
Yang terbendung di pelipis mata..
Maaf sayang..
Mungkin dayaku terlalu lemah..
Atau memang takdir yang tak kenal iba..
Hingga kadang asa merasuk goyahkan jiwa...
krna ujung penantiang yang tak kunjung tiba..
Jika pergimu tak untuk pulang..
Bawalah puisi ini sebagai bekal perjalanan..
Agar kau selalu ingat..
Ada aku yang terlanjur berucap..
"Takan ada titik batas untuk penantian"
Jumat, 16 Juli 2010
puisi cinta pujangga: hujan
puisi cinta pujangga: hujan: "Wajah langit muram terhimpit mendung.. Hanya pasrah meski tatapnya setengah marah.. doanya menanti kedewasaan mentari.. Agar awan hitam sege..."
hujan
Wajah langit muram terhimpit mendung..
Hanya pasrah meski tatapnya setengah marah..
doanya menanti kedewasaan mentari..
Agar awan hitam segera terusir pergi..
Jauh diteratas lapisan bumi..
Dengan lantang doanya kuamini...
Kedewasaan mentaripun turut kunanti..
Agar tetap terik mendominasi hari..
Agar tetap kering alas berpijaknya kaki..
Maaf hujan...
Bukan aku yang tak ingin kau datang...
Atau enggan menikmati indah warna pelangi yang engkau janjikan....
Tapi lihatlah di ujung sana..
Ada jiwa yang terbungkus raga..
Tatap pula putih pucat parasnya..
menyerupai mahluk yang tak lagi bernyawa..
Dia kekasihku...
Tatih langkahnya tertuju padaku..
Cinta yg di genggamnya pun untuku..
Untuk membasuh sendi rinduku yg lama kaku..
Hujan..
Aku mengerti jika kau geram..
Teramat paham jika kau pun dendam..
Karna doa yang ku amini..
Buat rintikmu tertahan...
Nanti jika kekasihku sampai...
Atau dia telah dalam pelukan..
Luapkan marahmu sesukamu..
Siramlah hari semaumu..
Kau Tenggelamkan bumipun..
Apa peduliku..
Hanya pasrah meski tatapnya setengah marah..
doanya menanti kedewasaan mentari..
Agar awan hitam segera terusir pergi..
Jauh diteratas lapisan bumi..
Dengan lantang doanya kuamini...
Kedewasaan mentaripun turut kunanti..
Agar tetap terik mendominasi hari..
Agar tetap kering alas berpijaknya kaki..
Maaf hujan...
Bukan aku yang tak ingin kau datang...
Atau enggan menikmati indah warna pelangi yang engkau janjikan....
Tapi lihatlah di ujung sana..
Ada jiwa yang terbungkus raga..
Tatap pula putih pucat parasnya..
menyerupai mahluk yang tak lagi bernyawa..
Dia kekasihku...
Tatih langkahnya tertuju padaku..
Cinta yg di genggamnya pun untuku..
Untuk membasuh sendi rinduku yg lama kaku..
Hujan..
Aku mengerti jika kau geram..
Teramat paham jika kau pun dendam..
Karna doa yang ku amini..
Buat rintikmu tertahan...
Nanti jika kekasihku sampai...
Atau dia telah dalam pelukan..
Luapkan marahmu sesukamu..
Siramlah hari semaumu..
Kau Tenggelamkan bumipun..
Apa peduliku..
selayang tanyaku
Pernah aku katakan padamu..
Selayang tanyaku yang teruntai..
Bukan karna hilangnya rasa percaya..
Atau nuraniku yang terusik curiga...
...Sungguh Masih segar dalam ingatan..
3 bulan sebelum senja ini..
Kau genggam sepasang tangan..
Sementara aku..
Kau biarkan Berdiri mati suri..
Di ujung sebrang sebuah jalan..
Meraung lantang karena jiwa yang kesakitan....
Kini kita mulai selembar kisah anyar..
Anggap semuanya hanya mimpi..
Meski sesekali kudapati..
Sakit itu menyapa, mendekat, bahkan coba menghampiri..
Tapi jika esok selayang tanyaku kembali teruntai..
Tak usahlah muram menahan geram..
Ingatlah sosok ini
sosok 3bulan silam..
Yang berdiri mati suri..
Yang meraung kesakitan di ujung sebrang jalan..
Karna bukan tanganya yang kau genggam..
Langganan:
Postingan (Atom)